Evaluasi Penerapan Langkah Keselamatan Pasien di Puskesmas Banguntapan I
DOI:
https://doi.org/10.35584/carejournal.v5i1.227Kata Kunci:
Keselamatan Pasien, Kualitatif, Pelayanan Kesehatan, PuskesmasAbstrak
|
Mengutip Permenkes No 11 tahun 2017 telah dikatakan bahwa tujuh langkah menuju keselamatan pasien bisa meminimalisir insiden keselamatan pasien. Puskesmas Banguntapan I merupakan puskesmas non rawat inap atau dengan kata lain hanya menyediakan rawat jalan saja. Pada tahun 2023 Puskesmas Banguntapan I meraih akreditasi Paripurna. Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) kedalam aplikasi Indikator Mutu Nasional (INM) sudah dilakukan, kendala yaitu tim keselamatan pasien belum mendapatkan pelatihan. Selain itu, terdapat 13 IKP pada tahun 2023 dan tertinggi di Kabupaten Bantul. Hal ini karena belum maksimalnya penerapan langkah keselamatan pasien. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui penerapan langkah keselamatan pasien di Puskesmas Banguntapan I. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus. Pemilihan subjek menggunakan teknik purposive sampling yaitu Kepala Puskesmas dan Seluruh anggota tim keselamatan pasien. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Penelitian ini telah mendapat izin etik dengan nomor: 012310259 dari KEP UAD. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien melalui penerapan kebijakan/SOP yang dilakukan oleh semua petugas, memimpin mendukung staf melalui pembentukan tim keselamatan pasien, mengintegrasikan aktifitas pengelolaan risiko dengan mengembangkan sistem pelaporan insiden, mengembangkan sistem pelaporan melalui INM, melibatkan berkomunikasi dengan pasien melalui SBAR, belajar berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien dengan investigasi insiden, mencegah cedera melalui penerapan sistem keselamatan pasien dengan penggunaan informasi berasal dari sistem pelaporan insiden untuk menetapkan solusi di Puskesmas. Penerapan langkah keselamatan pasien sudah berjalan cukup baik, hanya saja tim keselamatan pasien belum pernah mendapat pelatihan, belum adanya Penggerak dari IGD dan masih ada sarana prasarana yang perlu di tambah. |



